Sabtu, 30 Oktober 2010

Malaysia Siap Bantu Indonesia Tangani Bencana


Australia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa juga dikabarkan telah menyalurkan bantuan.
SABTU, 30 OKTOBER 2010, 13:41 WIB
Renne R.A Kawilarang

Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Abdul Razak, berpakaian khas Gowa (Antara/ Yusran Uccang)
VIVAnews - Malaysia dan anggota-anggota ASEAN lain ingin membantu Indonesia yang tengah didera dua bencana alam besar, di Mentawai dan Yogyakarta sejak awal pekan ini. Dua bencana ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono absen pada hari pertama KTT ASEAN di Hanoi pada 28 Oktober 2010, sebelum akhirnya bergabung kembali pada hari terakhir KTT, sehari kemudian.

Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak, mengatakan bahwa dia dan pimpinan ASEAN lain belum membahas secara khusus situasi di Indonesia. Namun, mereka pada dasarnya siap membantu.

"Sikap Malaysia sama, walau kami belum memutuskan bantuan seperti yang akan disampaikan," kata Najib, Jumat, 29 Oktober 2010, di sela-sela pertemuan ASEAN+1 dan ASEAN+3 di Hanoi, Jumat lalu, seperti dikutip laman harian The Star.

Najib akan menyempatkan diri berbincang dengan Yudhoyono menyangkut hal ini. Sejumlah negara, seperti Australia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa juga dikabarkan telah menyalurkan bantuan darurat ke Indonesia.

Presiden Yudhoyono sebenarnya telah berada di Vietnam, Selasa lalu. Selain menghadiri KTT ASEAN, ia juga menggelar pertemuan bilateral dengan Vietnam. Namun, tak lama kemudian Presiden kembali lagi ke Tanah Air untuk meninjau situasi di Kepulauan Mentawai yang dihantam tsunami dan menewaskan lebih dari 400 jiwa. Selain itu, Gunung Merapi juga meletus di Yogyakarta, yang hingga kini menewaskan puluhan orang. (kd)

• VIVAnews

Senin, 13 September 2010

Konspirasi Barat Lemahkan Kekuatan Islam di Belakang Perseteruan Indonesia-Malaysia



Konspirasi Barat Lemahkan Kekuatan Islam di Belakang Perseteruan Indonesia-Malaysia
Perseteruan Indonesia-Malaysia memanas kembali. Kasus saling tangkap antara Indonesia-Malaysia disebabkan pelanggaran batas laut oleh nelayan Malaysia telah menjadi letupan-letupan yang ke sekian kalinya menggetarkan tali hubungan antara dua bangsa yang mengaku serumpun Melayu ini.
Dimulai dengan semangat menentang Imperialisme dan Kolonialisme yang luar biasa dari bapak pendiri bangsa (founding father) kita, Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI itu marah besar karena Malaysia bersedia bergabung dalam persemakmuran di bawah kendali kerajaan Inggris Raya. Kemarahan bapak Proklamator kita itu diwujudkannya dalam semangat “ganyang Malaysia” hingga betul-betul terjadi pertempuran-pertempuran antara kita dengan Malaysia di sekitar Serawak dan Sabah pada waktu itu.
Kemudian keadaan hubungan kedua negara berubah sangat membaik ketika Indonesia di bawah rezim Soeharto, Presiden kedua RI yang bersahabat kental dengan Perdana Menteri Malaysia di masa itu, Mahathir Mohammad. Organisasi persatuan negara-negara di Asia Tenggara, Asean, terbentuk di mana hubungan politik, ekonomi, budaya dan keamanan terjalin mesra antara Indonesia dengan Malaysia, serupa mesranya hubungan pribadi antara Soeharto dengan Mahatir.
Seketika itu kekuatan Barat ketakutan dengan eratnya persatuan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia secara luas, serta kebangkitan ekonomi negara-negara di wilayah ini. Mereka mengambil langkah yang tepat dengan menganulir kekuasaan Soeharto, karena seiring lengsernya Soeharto, Asean, Persatuan bangsa-bangsa Asia-Afrika, bahkan Organisasi Konferensi Islam (OKI) seperti tiba-tiba ikut padam, dan tumpul giginya.
Negara-negara Asean kembali ke “habitatnya” masing-masing, termasuk Malaysia yang kembali ke pangkuan Ratu Elizabeth yang cemburu dengan kemesraan Mahatir dengan Soeharto.  Begitu juga dengan kekuatan persatuan negara-negara Islam ikut-ikutan melemah, terbukti pembelaan nasib bangsa Palestina melemah di dunia Islam sendiri. Bahkan negara-negara Arab duduk manis dan mengelus-elus senjatanya tanpa mau mempergunakannya lagi untuk membela Palestina.
Ketika para penggerak Reformasi – barisan sakit hati selama rezim Soeharto – berhasil meruntuhkan rezim Orde Baru – mungkin dengan bantuan Barat – semua borok lama diungkap kembali, termasuk buruknya perlakuan Soeharto terhadap mantan Presiden Pertama RI, Soekarno. Di sinilah kemudian sepak-terjang Soekarno dipuji-puji, termasuk sikap tegasnya menentang Imperialisme dan Kolonialisme yang salah satu bentuknya adalah penentangan dengan keras segala bentuk dukungan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme seperti masuknya Malaysia ke dalam Commonwealth atau Negara-negara Persemakmuran bekas jajahan Inggris.
Luka lama diungkit-ungkit kembali. Kepedihan bangsa Malaysia yang dirasakan kembali terhadap sikap permusuhan Soekarno ini kemudian semakin memperburuk hubungan kedua negara bertetangga dari waktu ke waktu selama reformasi ini.

Malaysia Akan Kuasai Indonesia…?

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Malaysia terlihat agresif menggarap potensi bisnis di Indonesia, mulai perkebunan, pertambangan, telekomunikasi, perbankan, asuransi, pendidikan, hingga sektor kesehatan. Mereka pun sukses mendulang keuntungan. Sebaliknya, Indonesia terkesan hanya mampu  menggaet ringgit dari tenaga kerja informal di negeri jiran itu.

Selama 2007-2009, data Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, realisasi investasi Malaysia di Indonesia sekitar US$ 1 miliar. Dari sisi neraca perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit neraca perdagangan Indonesia-Malaysia membengkak. Tahun lalu, nilai impor Indonesia dari Malaysia mencapai US$ 8,9 miliar, sedangkan nilai ekspornya hanya US$ 6,4 miliar.  Sebaliknya, Indonesia ‘sukses’ mendulang devisa dari sekitar dua juta tenaga kerja Indonesia (TKI) yang merantau ke negeri jiran itu.
Di Indonesia, para pemodal Malaysia telah merasuki aneka sektor bisnis. Di sektor perkebunan, para pemodal Malaysia telah menguasai sekitar 2,1 juta hektare dari 5,2 juta ha lahan kelapa sawit. Hal ini memperkuat sinyalemen 50 perusahaan Malaysia telah mengontrol 50% lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
“Keberhasilan perusahaan sawit patungan di Indonesia tergantung kesanggupan kita menjaga keamanan mitra Indonesia,” ujar Boon Weng Siew, president
Malaysian Estate Owners Association, seperti dikutip StarBiz, beberapa waktu lalu.


Namun, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) tidak yakin kalau pengusaha sawit Malaysia sudah menguasai 50% lahan sawit di Indonesia.
Berdasarkan data Gapki, 40% luas perkebunan kelapa sawit saat ini milik rakyat dan badan usaha milik negara (BUMN), yaitu masing-masing 2,1 juta hektare (ha) untuk rakyat dan 800 ribu ha milik BUMN. Sebagian besar adalah milik perusahaan swasta Indonesia. “Secara langsung, pengusaha Malaysia mungkin hanya memiliki luas lahan sawit di Indonesia sekitar 400-500 ribu ha,” jelas Susanto, ketua bidang pemasaran Gapki.
Meski Malaysia begitu ekspansif ke Indonesia, menurut Susanto, pemerintah tidak bisa membatasi investasi di perkebunan kelapa sawit oleh pengusaha asal Malaysia. Pasar bebas tidak mengenal pembatasan investasi asing. “Namun, pemerintah bisa menetapkan aturan untuk menyeleksi investasi asing. Hal itu untuk memberikan dukungan kepada pengusaha lokal supaya lebih eksis di perkebunan kelapa sawit,” jelas dia.
Sebelum memberikan izin baru, pemerintah perlu mewajibkan setiap pengusaha lebih dahulu membangun plasma sebesar 20%. “Tujuannya, supaya investasi yang datang dari investor asing itu benar-benar bisa diserap langsung oleh masyarakat,” jelas Susanto.
Dirjen Perkebunan Deptan Ahmad Mangga Barani mengakui, perusahaan Malaysia makin gencar mengakuisisi perkebunan kecil di Indonesia. Namun, pemerintah pusat sulit memantau aksi akuisisi itu karena izinnya lewat pemerintah daerah.

Minggu, 12 September 2010

Kenapa Orang Pintar RI Eksodus ke Luar Negeri


SAID DIDU
Semakin kuatnya kecenderungan orang pintar Indonesia memilih tinggal di luar negeri.

Said Didu (antara-photo)
VIVAnews - Tanpa disadari, waktu terus berganti. Padahal, dibalik pergantian tahun itu, bangsa Indonesia tengah menghadapi persoalan serius. Jika dibiarkan, persoalan ini akan menimbulkan masalah besar pada jangka panjang. 

Bahkan, persoalan tersebut nyata ada di depan mata. Ironisnya, ini belum disadari oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Akibatnya, masalah ini terus berlarut-larut sehingga merugikan Indonesia.

Salah satu fenomena yang menonjol itu adalah semakin kuatnya kecenderungan orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri, memilih tinggal dan bekerja di luar negeri. Mereka adalah doktor-doktor terbaik lulusan Yale, Cranfield, Stanford, MIT dan lain-lain. Umumnya mereka bergelut di bidang ilmu eksakta dan engineering seperti teknik, fisika, matematika komputer, dan sejenisnya. 

Minggu, 05 September 2010

50 Spesies Baru Ditemukan di Laut Indonesia

Image
Dengan ditemukannya spesies tanaman dan hewan di bawah laut nusantara, membuktikan jikalu Indonesia memang negara yang kaya akan kekayaan alamnya, khususnya kekayaan sumber laut yang luar biasa.

Tim ekspedisi gabungan Indonesia – Amerika Serikat (AS) dalam tiga pekan berhasil menemukan puluhan spesies tanaman dan hewan di bawah laut nusantara. Rupa spesies-spesies yang belum pernah terlihat itu diabadikan dalam kamera video dan foto.
Menggunakan kapal Okeanos Explorer dari AS dan Baruna Jaya IV dari Indonesia, tim ekspedisi telah mengakhiri misi pada 14 Agustus lalu. Setelah melihat sejumlah foto dan rekaman video, Kamis 26 Agustus 2010, tim peneliti memperkirakan bahwa sedikitnya ada 50 spesies tanaman dan hewan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Para ilmuwan pun terkesan dengan penemuan ini dan mengakui bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber laut yang luar biasa. “Selama berkarir sebagai peneliti saya hanya melihat beberapa spesies langka. Namun pada ekspedisi ini, saya terpukau melihat keberagaman spesies yang luar biasa,” kata Verena Tunnicliffe. profesor dari Universitas Victoria di Kanada setelah melihat sejumlah gambar yang direkam tim ekspedisi.

Kemampuan-Peralatan Tempur Indonesia Vs Malaysia

Image
Nampaknya TNI Angkatan Udara sudah benar-benar siap apabila memang antara Indonesia dan Malaysia terjadi peperangan, TNI Angkatan Udara juga yakin bahwa kemampuan mereka lebih unggul dibandingkan dengan TNI Angkatan Udara dari Malaysia

TNI Angkatan Udara tidak pernah khawatir dengan kekuatan tempur udara yang dimiliki Angkatan Bersenjata Malaysia. Indonesia memiliki keunggulan pesawat tempurnya saat ini.
“Kalau kekuatan saya kira sama lah yah, bahkan kita lebih unggul sedikit,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Imam Sufaat menjawab pertanyaan.
Dari segi kemampuan pilot pesawat tempur, kemampuan pilot Indonesia lebih dari Malaysia. Contoh saja, saat diadakan latihan bersama Malaysia, kemampuan menembak pilot TNI AU selalu tepat sasaran, sementara Malaysia melenceng.
Ini kelihatan jelas, bahwa kemampuan pilot TNI AU melebihi pilot tentara Malaysia. “Beberapa kali kita latihan di Malindo (Malaysia-Indonesia) Pilot kita targetnya selalu hancur, mereka ada yang miss,” terang Kasau.
Sedangkan untuk kepemilikan pesawat tempur, ada kelebihan dan kekurangannya. Seperti pesawat Sukhoi buatan Rusia, Indonesia baru punya 7 menuju 10 pesawat, sedangkan Malaysia sudah menuju 18 pesawat.
“Tapi kalau F-16 kita punya, sedangkan Malaysia tidak punya sama sekali,” ujar Kasau.
Bahkan, untuk kemampuan aerobatik pun, Indonesia banyak memiliki pilot yang handal di strategi itu, sedangkan Malaysia tidak.

Sabtu, 04 September 2010

Mengapa Indonesia terpuruk???




Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera untuk semua warga Indonesia.

Sebelumnya, saya ingin mengutarakan rasa prihatin yang sangat mendalam akan keadaan Negara kita INDONESIA, yang makin hari makin terpuruk saja. Padahal cita-cita para pejuang '45 dahulu adalah untuk memerdekakan Negara kita untuk sepenuhnya 100% merdeka. Tetapi apa yang kita rasakan saat ini belum sampai segitu. Status Negara kita memang sudah merdeka, tetapi banyak masyarakat Indonesia yang merasa belum merdeka, karena mereka banyak yang merasa dibawah garis kemiskinan. Apa yang telah diperjuangkan dari generasi ke generasi saya rasa sudah cukup maksimal. Tapi mengapa masih banyak orang yang merasa demikian??? Apa ini yang dinamakan keserakahan dari umat manusia???

Saya mohon maaf yang sebesar-sebesarnya kepada seluruh warga Indonesia, seandainya apa yang saya tulis dalam blog ini kurang berkenan di hati.

Disisi lain saya lihat dan dengar dari beberapa media, bahwa negara kita ini adalah negara terkaya di dunia, tetapi kenapa penduduknya masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan??? Apa salah dari pemerintahannya??? Saya fikir pemerintah memang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk negara kita, tapi disisi lain saya juga berfikir itu masih "semaksimal” belum yang beribu, berjuta, atau bertriliun maksimal usaha pemerintah untuk mensejahterakan masyarakatnya.

Saya tidak akan membandingkan Indonesia dengan negara lain, cukup mengkoreksi atau introspeksi sendirilah negara “PERSATUAN” ini, kira-kira apa yang salah di dalamnya??? Dan bagaimana dan apa jalan keluar terbaiknya???

Ini menurut jawaban saya pribadi, tolong kirim komentar untuk beberapa jawaban saya!!!